Pendidikan di pesantren memiliki kekhasan tersendiri yang tidak ditemukan di lembaga pendidikan formal manapun, salah satunya adalah teknik penulisan makna pegon. Di Pesantren Madinatuddiniyah, terdapat sebuah program khusus yang memberikan edukasi menulis makna pegon secara intensif, terutama bagi para santri baru dan peserta luar yang mengikuti pengajian pasaran. Menulis pegon bukan sekadar mengganti huruf alfabet menjadi huruf hijaiyah, melainkan sebuah seni linguistik yang memadukan struktur bahasa daerah dengan aksara Arab. Teknik ini sangat krusial karena berfungsi sebagai jembatan untuk memahami teks asli dari kitab-kitab kuning yang menjadi kurikulum utama di lingkungan pesantren.
Selama bulan Ramadan, pengajian pasaran di Madinatuddiniyah menjadi magnet bagi ratusan pencari ilmu. Tingkat fokus santri dalam sesi ini benar-benar diuji, karena mereka harus mendengarkan suara kiai dengan seksama sembari tangan mereka menari di atas kertas untuk menuliskan makna. Jika fokus terganggu sedikit saja, mereka bisa tertinggal satu kalimat atau bahkan satu paragraf, yang mengakibatkan hilangnya konteks dari materi yang disampaikan. Oleh karena itu, suasana di ruang pengajian biasanya sangat sunyi, hanya diiringi oleh suara goresan pena yang bersahutan. Kedisiplinan ini melatih saraf motorik dan ketajaman pendengaran santri secara bersamaan dalam sebuah proses sinkronisasi yang kompleks.
Metode pengajaran di Madinatuddiniyah menekankan pada keakuratan posisi makna di bawah kata aslinya. Santri diajarkan untuk meletakkan arti kata secara miring agar tidak bertumpukan dengan teks asli, sekaligus memudahkan proses pembacaan ulang di kemudian hari. Selain itu, penggunaan simbol-simbol tertentu sebagai penanda posisi subjek, predikat, dan objek dalam struktur kalimat Arab juga diajarkan dengan sangat detail. Hal ini sangat membantu santri dalam mengurai kerumitan tata bahasa Arab seperti nahwu dan sharf. Dengan penguasaan teknik ini, seorang santri akan memiliki kemampuan analisis teks yang sangat kuat, yang merupakan modal dasar untuk menjadi seorang ahli agama di masa depan.
Dalam kegiatan pengajian pasaran, tantangannya jauh lebih besar karena kecepatan kiai dalam membacakan kitab sering kali melampaui rata-rata kecepatan menulis santri biasa. Namun, di sinilah letak keunikan edukasi tersebut. Santri dilatih untuk memiliki “shorthand” atau tulisan singkat versi pegon yang hanya bisa dipahami oleh mereka sendiri namun tetap mengacu pada kaidah yang benar. Proses ini menciptakan kemandirian intelektual, di mana setiap santri memiliki catatan yang sangat personal namun tetap berbasis pada sumber yang otoritatif. Keahlian ini menjadi identitas yang melekat kuat pada diri santri Madinatuddiniyah sebagai penjaga tradisi literasi Nusantara yang sudah berusia berabad-abad.
