Pendidikan pesantren memiliki karakteristik unik yang memadukan tradisi dan kekayaan intelektual Islam. Di jantung sistem ini, harmonisasi antara Kitab Kuning dan metode bandongan menciptakan fondasi pembelajaran klasik yang mendalam dan tak lekang oleh waktu. Keduanya merupakan pilar utama yang membentuk santri menjadi pribadi berilmu dan berakhlak mulia.
Kitab Kuning adalah sebutan kolektif untuk kitab-kitab klasik berbahasa Arab yang ditulis oleh para ulama terdahulu, mencakup berbagai disiplin ilmu agama Islam seperti fikih (hukum Islam), tafsir Al-Qur’an, hadis, tasawuf (mistisisme Islam), nahwu (tata bahasa Arab), shorof (morfologi), dan lain-lain. Kitab-kitab ini umumnya tidak memiliki harakat lengkap dan berwarna kuning kusam (sehingga disebut ‘kuning’), menuntut keahlian khusus dalam membacanya. Kedalaman isi dan orisinalitas pemikiran para ulama di dalamnya menjadikan Kitab Kuning sebagai sumber rujukan utama bagi santri dan ulama di pesantren. Di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, pada Jumat, 12 September 2025, ratusan santri akan memulai pengajian kitab Matan Jurumiyah, salah satu Kitab Kuning dasar dalam ilmu nahwu.
Harmoni antara Kitab Kuning dan metode bandongan terletak pada bagaimana Kiai menyampaikan ilmu dari kitab tersebut. Dalam bandongan, Kiai membacakan teks Kitab Kuning, menerjemahkan, dan menjelaskan setiap kalimat secara rinci kepada sekelompok besar santri. Santri menyimak dengan seksama sambil mencatat makna harfiah (terjemahan kata per kata) dan penjelasan Kiai di sela-sela baris kitab mereka. Proses ini memastikan bahwa santri tidak hanya memahami teks, tetapi juga konteks, nuansa bahasa, serta berbagai pandangan ulama terkait masalah yang dibahas. Kiai, dengan kedalaman ilmunya, berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan santri dengan pemikiran dan warisan intelektual para ulama klasik.
Metode bandongan ini juga memiliki keunggulan dalam menjaga sanad keilmuan. Ilmu yang disampaikan memiliki silsilah yang jelas, bersambung dari Kiai, melalui guru-guru sebelumnya, hingga ke penulis kitab aslinya. Hal ini menjamin keotentikan dan keabsahan ilmu yang diterima santri. Selain itu, bandongan melatih konsentrasi, daya ingat, dan adab santri. Mereka dituntut untuk fokus penuh, sabar menyimak, dan menghormati majelis ilmu. Suasana khidmat di pengajian bandongan menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu dan tradisi keilmuan Islam.
Dengan demikian, Kitab Kuning dan bandongan adalah dua elemen yang saling melengkapi dalam membentuk pendidikan pesantren yang kokoh. Keduanya tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur, etos keilmuan, dan spiritualitas. Harmoni ini telah teruji waktu, terus menghasilkan generasi penerus yang mampu memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara mendalam.
