Kitab yang Lapuk: Perjuangan Menyelamatkan Ilmu Ulama Aceh dari Rayap dan Lembap

Aceh merupakan gudang ilmu pengetahuan Islam di Nusantara dengan warisan ribuan naskah kuno yang ditulis oleh para ulama besar di masa lalu. Namun, kekayaan intelektual ini kini berada di ambang kepunahan akibat ancaman alamiah yang tidak terlihat namun sangat merusak. Fenomena kitab yang lapuk menjadi pemandangan menyedihkan di beberapa perpustakaan pesantren tua dan koleksi pribadi keluarga ulama. Kertas-kertas tua yang menyimpan rahasia pemikiran hukum, tasawuf, dan astronomi Islam masa silam kini perlahan hancur menjadi debu jika tidak segera mendapatkan penanganan konservasi yang tepat dan profesional.

Musuh utama dari pelestarian naskah ini adalah kondisi lingkungan tropis Aceh yang memiliki tingkat kelembapan udara yang sangat tinggi. Rayap dan lembap adalah kombinasi mematikan yang bekerja dalam sunyi. Rayap mampu melahap ribuan halaman kitab hanya dalam hitungan minggu, sementara jamur yang tumbuh akibat udara lembap akan merusak serat kertas dan membuat tulisan tinta emas atau hitam di dalamnya memudar hingga tidak terbaca lagi. Banyak koleksi yang disimpan secara ala kadar di lemari-lemari kayu tua justru mempercepat proses kerusakan karena tidak adanya sirkulasi udara yang baik dan perlindungan dari serangan serangga penghancur selulosa.

Upaya perjuangan menyelamatkan warisan ini dilakukan oleh para sukarelawan dan akademisi dengan penuh ketelitian. Proses penyelamatan dimulai dari identifikasi naskah yang masih bisa diselamatkan hingga proses digitalisasi. Membersihkan setiap lembaran kitab dari kotoran dan telur serangga membutuhkan kesabaran luar biasa; satu lembar kertas yang sudah rapuh bisa hancur hanya karena hembusan napas yang terlalu kuat. Penggunaan bahan kimia tertentu untuk menetralkan tingkat keasaman kertas juga dilakukan agar proses pelapukan bisa dihentikan sementara. Ini adalah perlombaan melawan waktu demi memastikan ilmu ulama Aceh tidak hilang begitu saja ditelan zaman.

Digitalisasi dianggap sebagai solusi paling efektif untuk saat ini. Dengan mengubah naskah fisik menjadi data digital berkualitas tinggi, isi dari kitab tersebut tetap bisa dipelajari oleh generasi mendatang meskipun fisik kitabnya suatu saat akan hancur. Namun, kendala biaya dan peralatan yang mahal sering kali menjadi penghambat. Dibutuhkan pemindai khusus yang tidak merusak naskah serta ruang penyimpanan digital yang sangat besar dan aman. Dukungan dari pemerintah daerah dan lembaga donor sangat diperlukan untuk mendanai operasional penyelamatan naskah-naskah kuno ini sebelum semuanya terlambat dan hanya menjadi kenangan sejarah.