Pelaksanaan khitobah mingguan merupakan agenda wajib pesantren yang dirancang untuk melatih keterampilan berbicara di depan umum bagi seluruh santri. Dalam kegiatan ini, santri bergiliran tampil di atas panggung untuk menyampaikan pidato keagamaan menggunakan bahasa Indonesia, Arab, maupun Inggris. Latihan intensif ini melatih artikulasi suara, intonasi, penguasaan panggung, serta penyusunan materi dakwah yang sistematis dan menarik bagi para pendengar.
Mengasah pidato santri sejak dini terbukti ampuh mengikis rasa canggung, minder, dan gugup saat harus berhadapan dengan khalayak ramai. Santri dilatih untuk menyusun teks ceramah berdasarkan argumentasi Al-Qur’an dan Hadis yang sahih serta relevan dengan isu-isu terkini. Penguasaan teknik retorika yang baik membuat pesan-pesan kebaikan dapat tersampaikan secara menyentuh, logis, dan mudah diterima oleh berbagai kalangan masyarakat.
Penyempurnaan kualitas santri tidak hanya pada aspek retorika tetapi juga hafalan kitab suci, sebagaimana dimuat dalam ponpes madinatuddiniyahbabul kuatkan program tahfidz al quran santri demi melahirkan mubaligh berwawasan luas. Keseimbangan hafalan dan kemampuan menyampaikan pesan menjadi modal utama syiar Islam.
Pembentukan mental dakwah yang tangguh merupakan hasil dari proses latihan berulang dan evaluasi kritis dari para pengasuh usai kegiatan khitobah berakhir. Masukan mengenai gestur tubuh, ekspresi wajah, hingga pemanduan dalil menjadi catatan evaluasi untuk penampilan berikutnya. Pembiasaan tampil di depan umum ini memupuk jiwa kepemimpinan serta rasa percaya diri yang tinggi dalam diri santri.
Penguasaan public speaking keagamaan yang mumpuni menyiapkan para santri menjadi pencerah dan penggerak kemajuan masyarakat kelak saat kembali ke daerah asal. Keberanian menyuarakan kebenaran secara santun merupakan karakter utama ulama masa kini. Mari dorong para santri untuk terus berlatih dan mengasah potensi keaktorikatan dakwah mereka.
