Madinatuddiniyah Babul: Mempertahankan Metode Sorogan (Mengaji Langsung ke Guru) untuk Penguatan Sanad

Di tengah kemajuan teknologi pendidikan yang menawarkan berbagai aplikasi belajar mandiri dan tutorial daring, tradisi belajar mengajar di pesantren klasik tetap teguh pada metode yang telah teruji selama berabad-abad: Sorogan. Metode Sorogan adalah praktik di mana santri secara individu menghadap guru (kyai atau ustadz) untuk membacakan dan mendiskusikan materi pelajaran, khususnya kitab kuning. Ini adalah metode yang sangat personal dan intensif, dan bagi lembaga seperti Madinatuddiniyah Babul, mempertahankan Sorogan adalah kunci utama untuk penguatan Sanad keilmuan.

Sanad adalah rantai transmisi keilmuan yang menghubungkan seorang pelajar kepada penulis kitab aslinya, hingga kepada Rasulullah $\text{S A W}$ (khususnya dalam hadis dan Al-Qur’an). Dalam Islam, keabsahan ilmu tidak hanya terletak pada teks yang dibaca, tetapi juga pada koneksi spiritual dan metodologis dengan para ulama sebelumnya. Metode Sorogan memainkan peran fundamental dalam mempertahankan sanad ini. Ketika seorang santri membaca kitab langsung di hadapan guru, guru tersebut tidak hanya mengoreksi kesalahan bacaan atau pemahaman, tetapi juga memberikan ijazah (izin resmi) untuk mengajarkan materi tersebut di kemudian hari, yang berarti santri tersebut secara resmi masuk ke dalam rantai sanad keilmuan.

Mempertahankan Sorogan di era modern bukanlah perkara mudah. Peningkatan jumlah santri seringkali membuat waktu guru menjadi sangat terbatas. Namun, lembaga yang berkomitmen pada penguatan Sanad menyadari bahwa efisiensi harus dikorbankan demi kualitas dan otentisitas. Sorogan memberikan beberapa keunggulan tak tertandingi dibandingkan metode klasikal (bandongan) atau digital:

  1. Personalisasi Pembelajaran: Guru dapat langsung mengidentifikasi kelemahan spesifik setiap santri, baik dalam pelafalan Bahasa Arab (makharijul huruf), tata bahasa (nahwu/sharaf), maupun kedalaman pemahaman kontekstual kitab.
  2. Transfer Adab: Selain ilmu, Sorogan adalah transfer etika dan adab belajar. Santri belajar tawadhu (rendah hati) di hadapan guru, dan proses ini secara intrinsik menanamkan penghormatan terhadap ilmu dan ulama.
  3. Memastikan Keaslian: Sanad yang kuat menjamin bahwa ilmu yang diajarkan adalah ilmu yang otentik dan terpelihara dari kesalahan interpretasi yang mungkin muncul dari pembacaan mandiri tanpa bimbingan.

Untuk mengoptimalkan Sorogan di tengah keterbatasan sumber daya, pesantren modern mulai menerapkan sistem manajemen yang terstruktur. Misalnya, menetapkan jadwal Sorogan yang sangat ketat, mendelegasikan Sorogan kitab-kitab dasar kepada santri senior yang sudah mendapatkan ijazah (badal guru), sambil tetap memastikan bahwa kitab-kitab kunci diajarkan langsung oleh Kyai. Dengan cara ini, Madinatuddiniyah Babul menunjukkan bahwa komitmen terhadap Sanad dan metode Sorogan bukanlah kemunduran, melainkan investasi jangka panjang dalam kualitas ulama di masa depan, memastikan bahwa mata rantai emas keilmuan Islam terus tersambung tanpa terputus oleh modernitas.