Di antara berbagai teknik pembelajaran khas pesantren, Metode Sorogan menempati posisi unik karena sifatnya yang personal dan intensif. Metode Sorogan adalah sistem pengajaran face-to-face (satu santri berhadapan dengan satu Kyai atau Ustadz) di mana santri secara langsung “menyodorkan” (menyerahkan) bacaan dan hafalan Kitab Kuning mereka. Metode Sorogan ini menjadi jaminan utama dalam memastikan kualitas bacaan (qira’ah), pemahaman (fahm), dan penguasaan ilmu santri secara mendalam dan terperinci. Dengan intensitas personal yang tinggi, metode ini sangat efektif terutama bagi santri yang mempelajari ilmu dasar dan ilmu alat (Nahwu dan Sharaf).
Dalam praktik Metode Sorogan, santri bertanggung jawab penuh untuk mempersiapkan materi di luar jam pelajaran. Ketika tiba gilirannya, ia duduk di hadapan Kyai atau Ustadz, membaca kitab baris demi baris, menerjemahkan makna yang telah ia catat, dan menjelaskan pemahamannya. Kyai atau Ustadz kemudian berperan sebagai penguji, mentor, dan korektor. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga mengoreksi kesalahan harakat (tanda baca), keabsahan terjemahan, dan kedalaman interpretasi santri. Koreksi instan dan bimbingan yang spesifik inilah yang menjadikan Sorogan sangat efektif dalam mengidentifikasi dan memperbaiki kelemahan individual.
Keunggulan utama Metode Sorogan terletak pada pemantauan kualitas individual. Tidak seperti Wetonan yang bersifat massal, Sorogan memungkinkan Kyai secara pasti mengetahui sejauh mana kualitas akademik setiap santrinya. Bagi santri, metode ini menuntut kedisiplinan dan keberanian yang tinggi karena mereka harus siap diuji dan dikoreksi secara langsung. Intensitas ini mendorong santri untuk belajar mandiri (muroja’ah) sebelum menghadap guru, sehingga meningkatkan daya serap dan retensi materi. Sebuah penelitian pendidikan pesantren yang dilakukan pada tahun 2024 menemukan bahwa santri yang secara rutin menggunakan Metode Sorogan untuk Kitab Jami’ud Durus Al-Arabiyah (ilmu tata bahasa Arab) menunjukkan peningkatan kemampuan I’rab (analisis gramatikal) hingga 25% dalam satu semester.
Meskipun membutuhkan waktu yang sangat banyak dari pihak Kyai dan Ustadz, Metode Sorogan tetap dipertahankan karena perannya yang vital sebagai gerbang awal. Metode ini biasanya diterapkan pada santri tingkat awal (Ibtida’iyyah) untuk memastikan mereka memiliki fondasi yang kuat, baik dalam membaca Al-Qur’an, menghafal nazham, maupun menguasai ilmu alat. Dengan demikian, Sorogan adalah investasi waktu yang berharga bagi pesantren untuk mencetak lulusan yang tidak hanya berilmu luas, tetapi juga memiliki keakuratan dan kedalaman pemahaman yang teruji secara personal.
