Peristiwa bencana alam tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan rasa cemas dan trauma mendalam bagi anak-anak di pengungsian. Kegiatan pendampingan baca Alquran bagi warga dan anak-anak korban bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) hadir sebagai sarana trauma healing berbasis spiritual yang sangat menenangkan. Melalui lantunan ayat-ayat suci, para santri relawan membimbing anak-anak pengungsi untuk kembali menemukan kedamaian batin, rasa aman, dan harapan di tengah situasi sulit.
Dalam program pendampingan baca Alquran ini, relawan santri merancang metode pembelajaran yang interaktif, hangat, dan menyenangkan. Anak-anak diajak membaca Alquran bersama, menghafal surah-surah pendek, serta mendengarkan kisah-kisah teladan islami yang penuh hikmah. Suasana kebersamaan yang ceria di dalam tenda pengajian darurat berhasil mengalihkan perhatian anak-anak dari kenangan buruk pasca bencana yang baru saja dialami.
Pendekatan pendampingan keagamaan ini terbukti ampuh mengembalikan senyum dan kebahagiaan di wajah anak-anak pengungsian. Para orang tua merasa sangat terbantu karena anak-anak mereka memiliki kegiatan positif yang membangun karakter dan keimanan selama masa darurat. Majelis mengaji darurat ini menjadi pusat kegiatan sosial dan spiritual yang menguatkan ketahanan batin seluruh warga posko.
Kegiatan pendampingan spiritual ini dipadukan secara selaras dengan pelaksanaan program sekolah darurat dan alat tulis santri bencana NTT. Penggabungan pemulihan batin melalui Alquran dan dukungan sarana pendidikan formal memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak belajar secara utuh di tempat pengungsian.
Pemulihan trauma berbasis spiritual memberikan kekuatan batin yang kokoh bagi anak-anak untuk menghadapi masa-masa pemulihan pasca bencana. Bimbingan dari relawan santri menghadirkan figur pengayom yang memberikan rasa aman dan dorongan moral. Lingkungan mengaji yang kondusif membangun kembali kepercayaan diri anak-anak.
Dukungan moral dan spiritual merupakan fondasi utama dalam membangun kembali ketahanan masyarakat yang terdampak bencana alam. Pembelajaran Alquran di pengungsian meletakkan rasa optimisme akan masa depan yang lebih baik. Pada akhirnya, pendampingan baca Alquran ini menghadirkan kedamaian dan kehangatan spiritual bagi warga korban bencana di NTT.
