Fokus pelatihan yang diadakan adalah mengeksplorasi Seni Makro, sebuah teknik fotografi yang menangkap objek dalam jarak yang sangat dekat agar terlihat sangat detail. Dalam teknik ini, helai kaki serangga, tekstur urat daun, hingga embun di ujung rumput menjadi subjek utama yang dramatis. Bagi para santri, melihat detail mikroskopis melalui lensa makro adalah pengalaman spiritual yang luar biasa. Mereka diajarkan bahwa keindahan Tuhan tidak hanya terletak pada gunung yang menjulang tinggi, tetapi juga pada kerumitan pola pada sayap kupu-kupu yang hanya berukuran beberapa milimeter.
Penyelenggaraan Workshop Fotografi ini diikuti oleh para santri yang memiliki minat di bidang seni visual dan komunikasi. Mereka dibekali pengetahuan teknis mengenai pencahayaan (lighting), komposisi, hingga penggunaan lensa khusus makro. Instruktur yang dihadirkan adalah fotografer profesional yang juga memiliki perhatian terhadap isu lingkungan. Selain aspek teknis, workshop ini menekankan pada etika fotografi; bagaimana mengambil gambar tanpa merusak habitat atau menyakiti objek yang difoto. Ini sejalan dengan prinsip pesantren untuk selalu menjaga adab dalam setiap tindakan, termasuk saat berkarya seni.
Objek yang dijelajahi dalam kegiatan ini adalah Alam Liar yang berada di sekitar kawasan pesantren. Santri diajak masuk ke semak-semak, pinggiran sungai, dan area hutan mini untuk mencari “harta karun” visual. Kegiatan ini secara tidak langsung melatih kesabaran dan ketelitian santri. Untuk mendapatkan satu foto makro yang sempurna dari seekor capung yang sedang hinggap, seorang santri harus mampu mengatur napas, menahan gerakan, dan menunggu momen yang tepat—sebuah bentuk latihan konsentrasi yang menyerupai meditasi atau zikir dalam keheningan alam.
Di lingkup Ponpes Babul, hasil karya fotografi para santri tidak hanya disimpan di memori kamera, tetapi dipamerkan dalam galeri digital dan cetak. Foto-foto tersebut disertai dengan kutipan ayat-ayat Al-Qur’an atau hadis yang relevan dengan objek yang difoto. Inilah yang disebut sebagai “Dakwah Visual”. Sebuah foto makro sarang laba-laba yang rumit, misalnya, bisa menjadi media yang sangat efektif untuk menjelaskan kekuasaan Sang Arsitek Agung bagi kaum milenial yang lebih menyukai konten visual daripada ceramah panjang lebar.
