Sistem pendidikan tradisional sering kali menghadapi tantangan dalam memberikan perhatian individual kepada setiap peserta didik. Namun, jauh sebelum konsep personalisasi pembelajaran modern muncul, Sistem Sorogan telah lama menjadi tulang punggung metode belajar paling personal dan intensif di pesantren-pesantren Indonesia. Metode ini adalah cerminan dari filosofi pendidikan yang mendalam, di mana interaksi langsung antara guru (Kyai/Ustadz) dan santri menjadi inti dari transfer ilmu dan pembentukan karakter.
Sistem Sorogan secara harfiah berarti “menyodorkan” atau “menyerahkan,” merujuk pada praktik santri yang secara bergantian menyodorkan atau membacakan kitab di hadapan seorang guru. Dalam proses ini, guru akan menyimak, mengoreksi bacaan, memperbaiki pelafalan (terutama dalam bahasa Arab), menanyakan pemahaman, dan memberikan penjelasan serta tafsir secara langsung. Ini sangat berbeda dengan sistem bandongan (klasikal) di mana guru membacakan kitab dan santri menyimak.
Keunggulan utama dari Sistem Sorogan terletak pada intensitas dan personalisasi pembelajarannya. Karena santri maju satu per satu, guru dapat segera mengidentifikasi kelemahan spesifik setiap individu—apakah itu kesulitan dalam tata bahasa (nahwu dan shorof), pemahaman konteks, atau kemampuan membaca kitab gundul (kitab tanpa harakat). Sebagai contoh, dalam sebuah sesi sorogan kitab Fathul Qorib (kitab fikih Syafi’i), pada hari Senin, 15 Juli 2024, pukul 08:30 WIB, di Serambi Timur Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, seorang santri bernama Muhammad Fajar (18 tahun) dari Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mungkin sedang mengaji bab Sholat. Jika Fajar keliru dalam mengartikan istilah $Al-Wajib$ sebagai $Ar-Rukn$, sang Kyai, K.H. Abdul Malik, akan segera mengoreksi kekeliruan terminologi tersebut secara langsung dan memastikan Fajar memahami perbedaan fundamental antara keduanya.
Metode ini memastikan bahwa tidak ada santri yang tertinggal. Kecepatan belajar disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Santri yang lebih cepat dapat melanjutkan ke bab atau kitab berikutnya, sementara yang membutuhkan waktu lebih lama akan mendapatkan perhatian dan pengulangan yang diperlukan tanpa merasa tertekan oleh kurikulum yang kaku. Selain itu, interaksi tatap muka yang intens ini juga memupuk kedekatan emosional dan spiritual (ta’alluq) antara santri dan guru, yang dianggap krusial dalam tradisi pesantren untuk mendapatkan keberkahan ilmu (barokah).
Proses penilaian dalam Sistem Sorogan bersifat berkelanjutan dan holistik. Tidak ada ujian tertulis formal, melainkan evaluasi langsung pada setiap sesi mengaji. Penguasaan materi diukur dari kemampuan santri dalam membaca kitab dengan benar, mengartikan, dan menjelaskan isinya kepada guru. Seorang santri baru biasanya akan mengawali dengan kitab-kitab dasar seperti Jurumiyah (tata bahasa Arab) atau Ta’lim Muta’allim (etika mencari ilmu). Ketika seorang santri dianggap telah menguasai kitab tersebut, Kyai akan mengizinkannya beralih ke kitab yang lebih tinggi. Keputusan ini sering kali didasarkan pada pengamatan Kyai yang mendalam terhadap perkembangan karakter dan keilmuan santri, yang mencakup aspek ketaatan, kesabaran, dan kerajinan.
Dengan berfokus pada interaksi personal, Sistem Sorogan tidak hanya mentransfer pengetahuan tekstual tetapi juga menanamkan adab (etika) dan karakter. Dalam konteks modern, metode ini menjadi studi kasus yang menarik tentang bagaimana personalisasi pendidikan dapat dilakukan secara efektif dengan sumber daya yang sederhana, mengandalkan kualitas interaksi manusiawi sebagai teknologi pedagogis yang utama. Keberlanjutan Sistem Sorogan hingga saat ini membuktikan relevansinya sebagai salah satu cara paling efektif dalam menelurkan ulama dan cendekiawan Muslim yang memiliki pemahaman mendalam dan otentik terhadap sumber-sumber keagamaan.
