Kemampuan menulis merupakan senjata utama bagi seorang santri dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan di era keterbukaan informasi saat ini. Pondok Pesantren Babul (Madinatuddiniyah Babul) baru-baru ini menggelar sebuah workshop yang sangat relevan dengan kebutuhan zaman, yaitu mengenai cara membuat artikel dakwah singkat yang menarik untuk dibagikan di media sosial. Workshop ini dirancang untuk membekali santri dengan keterampilan menyusun narasi keagamaan yang padat, jelas, dan mudah dipahami oleh masyarakat awam tanpa mengurangi esensi dari dalil-dalil syar’i. Sebagai bagian dari integrasi dakwah multimedia, kegiatan ini juga disinkronkan dengan program workshop pembuatan video tutorial ibadah agar para santri memiliki kemampuan ganda dalam mengolah konten teks maupun visual secara profesional.
Membuat konten dakwah di media sosial memerlukan strategi khusus karena rentang perhatian (attention span) pengguna internet yang sangat pendek. Di Ponpes Babul, para santri diajarkan cara menentukan “hook” atau kalimat pembuka yang kuat agar pembaca tertarik untuk berhenti menggulir layar dan mulai membaca tulisan mereka. Materi workshop mencakup teknik penyederhanaan bahasa kitab kuning ke dalam bahasa populer yang tetap sopan dan edukatif. Para santri dilatih untuk mengambil satu poin penting dari sebuah hadis atau ayat Al-Qur’an dan mengemasnya menjadi tulisan sepanjang 200 hingga 300 kata yang langsung menyasar pada solusi permasalahan sehari-hari masyarakat.
Selain teknik penulisan, aspek pemilihan judul juga menjadi bahasan utama dalam workshop ini. Judul artikel dakwah haruslah provokatif namun tetap jujur, bukan sekadar klikbait yang menyesatkan. Santri belajar mengenai pentingnya mencantumkan sumber referensi yang jelas agar konten dakwah mereka memiliki kredibilitas tinggi dan tidak dianggap sebagai berita bohong (hoax). Ponpes Babul menekankan bahwa dakwah digital adalah amanah besar, di mana setiap huruf yang ditulis akan dimintai pertanggungjawabannya. Oleh karena itu, ketelitian dalam mengutip ayat dan terjemahan menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar dalam setiap sesi praktik menulis.
Praktik langsung dilakukan dengan memberikan tema-tema aktual, seperti etika bertetangga, keutamaan sabar, hingga tips menjalani gaya hidup halal di perkotaan. Para santri saling memberikan masukan terhadap tulisan rekan sejawatnya di bawah bimbingan ustadz yang juga praktisi media. Workshop ini juga mengajarkan cara menggunakan tagar (hashtag) yang relevan agar artikel dakwah mereka dapat menjangkau audiens yang lebih luas di platform seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Melalui kegiatan ini, Ponpes Babul ingin merubah pola pikir santri dari sekadar konsumen konten menjadi produsen konten yang inspiratif dan mencerahkan.
